Selasa, 15 Desember 2009

Prespektif Liberalisme

1. Liberalisme Klasik
Kehancuran yang diakibatkan oleh Perang Dunia (PD) I membawa keinginan manusia untuk menghindari perang. Hal inilah yang merupakan titik awal kebangkitan kaum liberalis yang ditandai oleh berdirinya Liga Bangsa-Bangsa. Liberalisme yang merupakan antitesis dari realisme berangkat dari asumsi dasar tentang pandangan positif tentang manusia, keyakinan bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual dan percaya terhadap kemajuan yang dibawa oleh modernitas. Manusia adalah pada dasarnya baik dan terlahir dengan kecenderungan untuk saling bergantung dan bekerja sama dengan manusia yang lain . Asumsi inilah yang menempatkan individu dan kolektivitas individu sebagai kajian utama. Perhatian dasar liberalisme klasik untuk membedakannya dengan liberalisme yang akan dijelaskan kemudian adalah kebahagiaan dan kesenangan individu. Pikiran-pikiran para scholar yang mendahului aliran ini adalah John Locke dengan pemahaman tentang negara konstitusional, Bentham dengan kajian hukum internasional dan timbal balik serta pemikiran Immanuel Kant tentang perdamaian abadi dan kemajuan. Nilai-nilai dasar yang diusung liberalisme adalah prospek menuju damai, semangat perdagangan, interdependensi dan institusi, hak asasi manusia, serta kesejahteraan.
Liberalisme sendiri beranggapan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat yang baik sehingga terbentuknya sebuah perdamaian bukan merupakan sesuatu yang mustahil. Namun, untuk menciptakan perdamaian, maka ada beberapa sistem yang harus diganti. Pertama sistem aristrocracy harus dirubah menjadi sistem demokrasi. Kedua autarky harus dirubah menjadi free trade. Ketiga balance of power harus di-institusikan menjadi collective security. Perang sendiri dianggap sebagai sebuah hal yang tidak normal dari sifat manusia. Kalangan liberal seperti Kant, Cobden, Schumpeter dan Doyle berpendapat bahwa perang merupakan sebuah ciptaan dari pemerintahan yang tidak demokratis dan militeristik. Kaum liberal percaya bahwa obat yang dapat mencegah perang yaitu dengan perdagangan bebas dan pemerintahan yang demokratis. Lebih dari itu, Kant berpendapat bahwa pacific federation yang menjamin sebuah perdamaian dapat terbentuk dari negara-negara demokratis yang memiliki legalitas. Ekspansi perdamaian dari negara-negara besar ke negara-negara kecil merupakan dasar dari pemikiran dari Fukuyama dalam melihat prospek perdamaian pasca perang dingin.
Neoliberalisme
Perdebatan panjang antara realis dan liberalis tentang human nature kemudian disempurnakan dengan metode ilmiah dalam kerangka pendekatan behavioralis saat Perang Dingin. Aliran ini kemudian disebut sebagai neoliberalisme. Neoliberalisme mengadopsi nilai-nilai dasar liberalisme klasik dengan berbagai penyempurnaan dalam kerangka behavioralisme. Konstruksi ilmiah yang ditekankan oleh kaum behavioralis mengakibatkan aliran ini sudah lebih ’realis’ dengan menerima bahwa tidak semua manusia itu baik. Tetapi penganut aliran ini tetap beranggapan bahwa kedamaian tetap dapat terwujud bila para aktor berinteraksi dapat mewujudkan kerja sama yang kini kerja sama itu diterjemahkan oleh kaum liberalis sebagai perdagangan bebas dan penghargaan hak asasi manusia.
Neoliberalisme bertujuan mengembalikan kepercayaan pada kekuasaan pasar, dengan pembenaran mengacu pada kebebasan. Seperti pada contoh kasus upah pekerja, dalam pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut campur dalam penentuan gaji pekerja atau dalam masalah-masalah tenaga kerja sepenuhnya ini urusan antara si pengusaha pemilik modal dan si pekerja. Pendorong utama kembalinya kekuatan kekuasaan pasar adalah privatisasi aktivitas-aktivitas ekonomi, terlebih pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola pemerintah.
Revolusi neoliberalisme ini bermakna bergantinya sebuah manajemen ekonomi yang berbasiskan persediaan menjadi berbasis permintaan. Sehingga menurut kaum Neoliberal, sebuah perekonomian dengan inflasi rendah dan pengangguran tinggi, tetap lebih baik dibanding inflasi tinggi dengan pengangguran rendah. Tugas pemerintah hanya menciptakan lingkungan sehingga modal dapat bergerak bebas dengan baik.
Kritik
Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak asing. Negara-negara berkembang yang institusi ekonomi dan politiknya belum terbangun tetapi telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal sendiri terdapat kritik terhadap banyaknya negara maju telah menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.
Pendukung antiglobalisasi adalah pihak yang paling lantang menentang neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi "pembebasan arus modal" tetapi tidak ada pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah "perlombaan menuju dasar" dalam arus modal menuju titik terendah untuk standar lingkungan dan buruh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar